Imagologi


Kini kita akan berbicara tentang Imagologi. Menurut seorang novelis yang bernama Milan Kundera, ia berbicara mengenai tentang naiknya citra (yang ia sebut “imagologi”) atas ideologi, dan bahkan citra tersebut melebihi dari kenyataan. Imagologi dia artikan sebagai sebuah seni membuat gambaran nilai atau cita-cita yang melibatkan orang banyak tanpa dikritisi atau dipertanyakan oleh orang-orang tersebut. Inilah yang menjadi bibir dari media, periklanan, PR dan pemasaran.

“Imagology has gained a historic victory over ideology. In the end [all ideological] dogmas were unmasked as illusions, and people stopped taking them seriously.”

Kundera menjelaskan bahwa dunia akan diproduksi oleh tipe media massa dan marketing jenis baru, yang mana dia sebut sebagai imagologues – para insinyur imajinasi.

“The politician is dependent on the journalist. On whom are the journalists dependent? On imagologues. The imagologue is a person of conviction and principle: he demands of the journalist that his newspaper (or TV channel, radio station) reflect the imagological system of a given moment.”

Dunia menjadi ajang pertempuran antara realita versus imajinasi, dan media massa sebagai fasilitator imagologi bekerja untuk menciptakan semua pertempuran itu. Namun sekali lagi, pertempuran itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang memiliki daya nalar tinggi yang dimana dia mampu membandingkan keadaan real dengan keadaan yang imajiner. Bahkan Milan Kundera mengatakan bahwa terjadinya transformasi planet yang berisi ideologi menjadi planet yang berisi imagologi. Semua ideologi didunia ini telah dikalahkan oleh imagologi, pada akhirnya dogma ideologi berupa ilusi dan masyarakat akhirnya berhenti mengambil sesuatu yang berbau kritis dan serius. Pada dasarnya realita lebih kuat dari ideologi, dan dalam pengertian Milan Kundera, imagologi lebih kuat dari realitas.

Kundera berpendapat bahwa iklan komersial dan propaganda yang dilakukan oleh ideologi merupakan bagian dari aturan yang dipakai dalam imagologi. Kita dapat melihatnya didalam iklan-iklan, terutama iklan rokok. Tidak penting bagi perusahaan rokok menunjukkan produk rokok mereka (walau sebenarnya dilarang oleh aturan), tetapi mereka berusaha membentuk imajinasi terhadap konsumen ketika mengkonsumsi produk mereka. Oleh karena itu sangatlah wajar jika iklan rokok dapat merasuki usia para remaja, karena pemikiran mereka yang belum matang dapat dengan mudah dirasuki oleh imagologi-imagologi perusahaan rokok melalui iklan-iklan yang mereka tayangkan di televisi.

Agensi periklanan menciptakan bahasa, formula, dan estetika mereka sendiri. Ide-ide mereka tentang gaya hidup yang benar, kemudian mereka mengolah, menyebarkannya dan kemudian diterapkan oleh masyarakat. Imagologi menciptakan sistem ideal dan anti ideal, ini merupakan sistem berdurasi pendek. Namun walau berdurasi pendek, hal ini mampu mempengaruhi perilaku kita, opini politik dan selera estetika, bahkan sampai warna karpet dan pilihan buku-buku yang akan kita baca. Seperti masa lalu, kita telah dipengaruhi oleh sistem ideologi, namun yang kali ini memiliki kekuatan yang lebih dari sekedar ideologi.

Dengan dibentuknya sistem oleh imagologi ini maka akan muncul penipisan realitas, yand dimana oleh Baudrillard disebut sebagai hyperreality. Jean Baudrillad adalah seorang filsuf, dalam bahasa prancis dia menyebutnya sebagai Simulacres et Simulation. Dia menyelidiki tentang hubungan antara realita, simbol dan masyarakat. Simulacra adalah salinan yang menggambarkan hal-hal yang baik namun tidak memiliki realitas, sedangkan simulasi adalah imitasi dari operasi dari proses dunia nyata atau sistem dari waktu ke waktu.

“…The simulacrum is never that which conceals the truth—it is the truth which conceals that there is none. The simulacrum is true”

Oleh karena itu Baudrillard menyatakan bahwa kritik ideologi sudah tidak lagi relevan, karena simulasi tidak lagi dianggap sebagai representasi palsu tentang realitas. Begitulah dunia saat ini, telah berubah menjadi masyarakat kapitalis kontemporer sehingga perwujudan atas alasan-alasan kritis telah hilang. Semua ini diganti dengan pseudo privasi dangkal dimana satu-satunya masalah saat ini adalah penggunaan waktu luang yang dimiliki dan budaya konsumsi.

Imagologi telah berhasil memanipulasi masyarakat agar sesuatu mendapatkan legitimasi atas kekuasaan. Publisitas kritis kini digantikan oleh publisitas manipulatif. Dengan tidak adanya kritik publik, maka hukum dan norma-norma masyarakat tidak lagi berhubungan dengan unversalitas dan kebenaran. Semua ini telah menjadi demokrasi media dimana politisi dan kebijakan yang dikemas untuk media pemasaran dan konsumsi publik……. Media demokrasi… Jargon-jargon demokrasi yang digunakan oleh media pada akhirnya hanyalah sebagai pelaksana imagologi, ditandai dengan tidak adanya perdebatan politik langsung, pemilih telah menjadi penonton bukan menjadi peserta dalam perdebatan.

Selamat berdebat dalam arena media imagologi, Selamat hidup dalam imajinasi. Selamat tinggal dunia nyata.

Advertisements
Tagged with: , , , , , ,
Posted in Free Knowledge, what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

January 2014
M T W T F S S
« Dec   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Blog Stats
  • 25,518 hits
Categories
%d bloggers like this: