Kematian Anak di Jalanan Kota Bandung


Dahulu saya adalah salah satu dari sekian dikit orang yang pernah merelakan waktunya selama beberapa tahun mendampingi anak jalanan di kota bandung. saya berkeliling dari cihampelas, ciroyom, cimahi, cimindi, buah batu, dan masih banyak tempat lainnya hanya untuk mendampingi anak-anak di jalanan tersebut.

Bertahun-tahun saya berusaha memahami fenomena anak jalanan yang begitu kompleks, termasuk fenomena berbagai tanggapan masyarakat terhadap munculnya permasalahan sosial anak jalanan ini. Dari dalam lubuk hatiku aku menyakini bahwa seorang anak itu sangat berbahaya jika berada dijalanan, tiap tahun saya selalu mendengar anak-anak yang saya kenal mati satu persatu di jalanan. Ya… Mati… Benar-benar mati…

Bahkan Rabu (11/12/2013) kemarin salah satu anak jalanan yang pernah saya dampingi meninggal karena ditabrak angkot yang supirnya lagi mabuk. Kronologis seperti ini, katanya jam 9 malem anak itu sedang menyebrang sambil membawa karpet dan selimut, lalu dia ditabrak angkot yg supirnya sedang mabuk. Tubuh si anak keseret-seret kurang lebih 10 meter kemudian sampai leher dan badannya kelindas ban mobil angkot tersebut. Lalu tubuhnya anak jalanan tersebut dinaikan ke dalam angkot, dan kemudian dibuang sama supir angkotnya dipinggir jalan. Ketika dinaikan kedalam angkot bukannya dibawa ke rumah sakit, namun melainkan malah dibawa mutar-mutar karena supir dkk panik. Padahal ketika dinaikan kedalam angkot, anak tersebut masih bernyawa, dan ketika meninggal malah dibuang kejalan.

Itu buat peristiwa pertama saya mendengar, menyaksikan seorang anak mati di Jalanan. Saya sebagai warga Jakarta yang telah bertahun-tahun tinggal di Bandung sangat prihatin dengan permasalahan anak-anak di jalanan kota Bandung ini. Saya mengharapkan adanya sosok pemimpin yang mampu merubah paradigma masyarakat ke anak jalanan, bahkan pada awalnya saya menaruh harapan yang besar kepada Ridwan Kamil sebagai walikota Bandung terpilih.

Tapi setelah saya mendengar berbagai selentingan tentang cara walikota Bandung memperlakukan anak Jalanan. Mohon maaf jika saya salah dengar, solusi yang beliau tawarkan adalah dengan menjadi loper koran atau menjadi petugas kebersihan. Perih hati saya mendengar solusi itu. Mohon maaf, Apakah pemimpin kota Bandung saat ini tidak menganggap anak-anak jalanan itu adalah seorang anak? Dan apakah bapak/ibu sekalian menginginkan anak bapak/ibu mencari nafkah di jalanan?

Mereka itu hanyalah seorang anak, walau mereka dicap dengan kata “Jalanan”. Seperti layaknya seorang anak, mereka butuh rumah, butuh perlindungan, dan butuh kasih sayang. Bukan malah ditawari pekerjaan. Mohon maaf, apakah sang pemimpin kota Bandung akan menyalahkan seorang anak yang belum dewasa kepribadian dan pemikirannya karena terjun ke jalanan?

Saya sangat meyakini masih ada sedikit harapan agar terciptanya regulasi dan penerapan regulasi yang manusiawi, memperhatikan manusia sebagai seorang manusia, seorang anak selayaknya seorang anak. Semoga keyakinan saya ini bukanlah keyakinan buta.

Advertisements
Tagged with: , , , , , , ,
Posted in my heart, what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2013
M T W T F S S
« Sep   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Blog Stats
  • 25,518 hits
Categories
%d bloggers like this: