Kebutuhan anak di Jalanan (bagian 2)


Lanjutan dari tulisan saya yang dahulu kala pernah saya tulis dengan judul “Kebutuhan Dasar Anak Jalanan” , dimana saat ini judul itu saya rubah menjadi “Kebutuhan anak di jalanan”.

Tulisan terdahulu dapat dilihat disini

https://www.facebook.com/notes/gerimis-bulan-november/kebutuhan-dasar-anak-jalanan/171594019520741

Kenapa saya rubah judul itu? Karena saya sadar sekali dengan saya menyebut mereka “Anak Jalanan” akan dapat memberikan justifikasi serta dampak negatif terhadap kondisi mental mereka padahal mereka adalah hanyalah seorang anak yang kebetulan berbeda dengan masa kecil kita, yaitu mereka berada di jalanan. Tetapi sekali lagi, mereka tetap generasi penerus kita, anak bangsa ini.

 

Seiring melihat kondisi di jalanan, mendengar bahkan melihat dengan kepala mata sendiri betapa banyak anak-anak yang meninggal di jalanan. Baik meninggal karena sakit, kecelakaan, minuman keras yang dioplos, lem, obat, kekerasan, dsb. Muncul sebuah pertanyaan di otak ini, “Apa yang sebenarnya mereka butuhkan?

 

Pendidikankah? Kasih sayangkah? Kesehatan kah? Eksistensi manusia kah?

Kini setelah pengamatan ku, itu bukan hal pokok. Yang paling penting adalah mereka keluar dari jalanan. Sedangkan pendidikan, kasih sayang, kesehatan, dll adalah faktor pendukung yang dibutuhkan ketika mereka keluar dari jalanan.

 

Mereka seorang anak, tentu saja sebagai seorang anak mereka berhak mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak yang lainnya. Buat apa ada LSM, Yayasan, Komunitas, dll jika anak-anak tersebut masih di jalanan? Memang mungkin tidak 100% keluar langsung dari jalanan, melainkan bisa meminalisir menjauhkan mereka dari kondisi kerasnya jalanan. Bukannya malah memanfaatkan kondisi mereka dan lalu mengekspos rasa iba. Kerasnya jalanan bisa mempengaruhi faktor psikologis dan membentuk karakter mereka. Oleh karena itu penting kiranya untuk menjauhkan anak-anak dari dunia jalanan. Beda halnya ketika mereka sudah dewasa, ketika mereka dewasa dan balik lagi ke jalanan maka itu adalah sebuah pilihan. Lalu apakah anda sekalian akan mengatakan bahwa menjadi anak jalanan itu sebuah pilihan? Saya rasa itu bukan pilihan, karena mereka masih anak-anak dan belum memiliki pemikiran matang tentang pilihan yang mereka ambil.

 

Oh iya, satu hal lagi, anak-anak tidak boleh dibesarkan dengan rasa iba, jika memang ingin mendidik dan membina mereka maka jadilah orang tua bagi mereka. Orang tua? Ya, mendidik, membina, mencari nafkah untuk mereka, mengayomi dan bahkan melindungi mereka.

 

======================================

 

ayo kita bangun budaya kritik untuk membangun bukan untuk menghancurkan

Advertisements
Tagged with:
Posted in what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2012
M T W T F S S
« May   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Blog Stats
  • 28,009 hits
Categories
%d bloggers like this: