Evaluasi Pengamatan Jalanan


Beberapa tahun turun ke jalan dan menjadi pemerhati bagi anak-anak yang berada di jalanan. Dari pertama terjun hingga saat ini saya sudah melihat berbagai macam jenis penanganan untuk anak jalanan baik yang dilakukan oleh komunitas, lembaga hukum, panti dan sejenisnya. Belum ada satu metode yang benar-benar dapat menyelesaikan atau mendidik anak jalanan ini yang berhasil 100%. Sebagai contoh kegiatan atau metode yang dilakukan antara lain, yaitu:

  1. Dimasukkan ke panti rehabilitasi/pesantren atau sejenisnya:Alhasil banyak dari anak-anak yang diambil dari jalanan dan dimasukkan ke dalam panti akhirnya kabur dan kembali lagi ke jalanan. Dalam asumsi saya setelah ngobrol-ngobrol dengan anak-anak yang kabur adalah tempat tersebut tidak memperlakukan mereka (anak-anak) sebagaimana layaknya seorang anak biasa. Tempat tersebut merebut masa kecil dan memperlakukan anak-anak tersebut seperti orang dewasa (disuruh ngepel, bekerja, dll).
  2. Pembelajaran di jalanan : Biasanya dilakukan di tempat-tempat anak-anak jalanan beroperasi atau mangkal, dan tidak memiliki tempat belajar khusus. Dari pengamatan banyak pembelajaran di jalanan yang tidak memiliki visi jangka panjang dalam mengajarkan sesuatu kepada anak. Pembelajaran yang pada umumnya diberikan adalah CALISTUNG (Baca, Tulis, Hitung) dan terkadang ada juga yang memberikan pelajaran ketrampilan kepada anak-anak jalanan. Pembelajaran ini bisa digolongkan kepada pembelajaran yang tidak efektif dalam mengubah sang anak, karena terkadang tidak semua anak mengikuti pembelajaran ini malah tidak ada backup plan ketika ada anak yang tidak mengikuti pembelajaran pada jadwal tertentu. Selain itu, pembelajaran di jalanan ini tidak dilakukan setiap hari secara sistematis, dengan nama lain pembelajaran hanya dilakukan 2-3x dalam seminggu, lalu 4-5hari sisanya melakukan apa?
  3. Rumah Singgah/Rumah Belajar : Dengan metode ini biasanya anak-anak dikumpulkan ditempat khusus agar dapat tinggal atau hanya ketika belajar saja. Jika anak-anak tinggal di rumah khusus yang disediakan dengan nama lain harus ada orang dewasa yang membina mereka layaknya keluarga, karena pada dasarnya anak-anak jalanan tidak memiliki panutan (orang tua) sebagai contoh bagi hidup mereka. Pembelajaran yang dilakukan lebih baik dibagi menjadi dua versi, yaitu pembelajaran formal (waktu sudah ditetapkan), dan pembelajaran non-formal (Pembelajaran etika, sopan santun, mimpi, seperti pembelajaran orang tua-anak). Dengan nama lain pembelajaran yang terjadi harus memiliki visi dan misi jangka panjang karena harus memikirkan masa depan sang anak dan membuat mereka benar-benar keluar dari jalanan. Pada metode yang ini, kedekatan individual/personal kepada sang anak sangat dibutuhkan.

Untuk sementara, mungkin ini sebagian evaluasi dari pengamatan bertahun-tahun.

Advertisements
Tagged with: , , , , , ,
Posted in what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Blog Stats
  • 25,518 hits
Categories
%d bloggers like this: