Selamat Bangkit, Kawan!


“Banyak orang yang berpikiran untuk melakukan perubahan besar, namun tidak mampu untuk berbuat hal yang kecil. – GSM”

Berbicara tentang kebangkitan nasional pasti mengajak kita bernostalgia tentang perubahan besar di masa lalu. Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).

Percayakah kalian kebangkitan nasional (sesuatu yang besar) tiba-tiba muncul begitu saja? Boedi Oetomo tiba-tiba terbentuk begitu saja? Ikrar sumpah pemuda tiba-tiba terucap saja? Tidak ada suatu perubahan besar yang instan di dunia ini, termasuk kehadiran kalian di dunia ini.

Boedi Oetomo

Berawal dari Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908 yang menggagas untuk mendirikan organisasi kepemudaan.

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda ini berawal dari sebuah Kongres Pemuda yang berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Jaman Sekarang

Banyak dari pemuda/i, mahasiswa/i jaman sekarang yang berpikiran jauh kedepan untuk melakukan perubahan besar, berbicara tentang kemiskinan, kebodohan bangsa, dan bahkan bobroknya moral dan sistem bangsa ini. Namun ketika ditanya apa yang telah dilakukan, mereka hanya bisa saling bertatap muka. Ya.. Terlalu banyak berpikir, bahkan berpikiran besar, tanpa sebuah pengimplementasian dari buah pikiran mereka (atau bahkan saya).

Berbicara rakyat yang kelaparan namun tidak tau bagaimana rasanya kelaparan itu, atau bahkan tidak pernah terjun secara langsung bersama rakyat yang kelaparan itu. Berbicara tentang bangsa itu terlalu besar; kawan! Bicarakan tentang sekitar kita, mulai dari berbicara “apakah kawan saya sudah makan hari ini?” lalu berubah perlahan namun pasti menjadi “Kenapa anak-anak itu berada di persimpangan jalan?” Cukup kita buka mata kita untuk sekitar kita. Lihat mereka, dengarkan, dan rasakan. Jangan berpikiran terlalu muluk-muluk, lakukan saja apa yang kita bisa lakukan saat ini. Berbagilah kasih sayang dan cinta, jika kita masih memiliki itu.

 “Kasih sayang merupakan mutiara di dasar laut yang harus diselami, diambil lalu dibagikan.”

Ternyata kehangatan dan kebahagiaan bertebaran di sekitar kita. Dia berwujud keluarga yang penuh kasih dan saling berbagi cinta. Baik itu keluarga sedarah ataupun keluarga yang tidak sedarah. Setiap individu pasti memiliki cara tersendiri. Ibarat dihadapkan dengan suatu problem, setiap individu memiliki cara dan gaya tersendiri dalam penyelesaiannya. Nah, begitupun dengan kasih sayang. Kasih sayang memiliki caranya sendiri dalam menumbuhkan perubahan besar bagi bangsa ini. Walaupun terkadang kasih sayang ini sering kita salah persepsikan. Kita berbuat atas dasar kasih sayang, ternyata kita berbuat hanya takut neraka dan menginginkan surga, atau bahkan karena pahala dan dosa, yang dengan nama lain itu hanya untuk keoportunisan pribadi. Lihatlah Tuhan, dia maha penyayang, dan dia menyayangi semua manusia tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tak ada satupun manusia yang menyembah dia, dia tidak akan mati dan akan tetap menjadi maha penyayang.

Sayangilah sesuatu karena kamu memang menyayanginya, bukan karena sesuatu. Dengan seperti itu perubahan perlahan namun pasti akan terjadi. Andai setiap orang berusaha membantu orang lain karena kasih sayang, dapat anda bayangkan sendiri berapa banyak orang yang akan berdiri disamping anda untuk membantu anda. Dan sekarang bayangkan perubahan besar yang akan terjadi jika itu dilakukan oleh suatu bangsa. Beratus-ratus jiwa akan saling membantu dan menolong atas dasar kasih sayang, bukan atas dasar ke oportunisan pribadi. Lakukanlah dari hal yang sangat kecil, tidak usah muluk-muluk.

Begitu pula yang terjadi di jaman dahulu ketika Boedi Oetomo dan Ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan. Rasa persatuan, nasionalisme, dan sebagainya tidak akan pernah ada jika mereka tidak memiliki Kasih Sayang dan cinta untuk orang-orang disekitar mereka. Selamat bangkit, kawan ku sebangsa dan se tanah air!

“kebahagiaan akan terasa nyata jika kita mau berbagi”

Advertisements
Posted in what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Blog Stats
  • 28,025 hits
Categories
%d bloggers like this: