Nikah tanpa pacaran? why not?


Untuk kesekian puluh kalinya (lebay), saya mendapatkan obrolan yang menyerempet (kayak bajaj) topik yang berbau tentang pernikahan. Sebelum kita menelaah terlebih jauh tentang pernikahan (tentu saja konsep dalam otak ini), marilah kita melihat arti pernikahan tersebut.

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi anatar bangsa, suku satu dan yang lain pada satu bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.

Pernikahan adalah bentukan kata benda dari kata dasar nikah; kata itu berasal dari Bahasa Arab yaitu kata nikkah (bahasa Arab: النكاح ) yang berarti perjanjian perkawinan; berikutnya kata itu berasal dari kata lain dalam Bahasa Arab yaitu kata nikah (bahasa Arab: نكاح) yang berarti persetubuhan.

definisi di atas saya sadur dari sumber Wikipedia, kalau ada yang menambahkan ya silahkan saja. toh nanti juga tak akan jauh berbeda.

Nikah tanpa pacaran?

Banyak dari sekitar kita atau bahkan kita sendiri menyatakan atau menganggap bahwa sebelum menikah ada lebih baik atau bahkan mewajibkan untuk berpacaran terlebih dahulu. ya.. tentu saja dengan embel-embel untuk saling mengenal lah, dan lain sebagainya. Sebagian besar orang (mayoritas) bahwa pacaran itu adalah sebuah status dalam sebuah hubungan yang mungkin saja banyak yang mengatakan itu bahwa adalah status yang sah (entah darimana ini hukumnya).

Kenapa ada status pacaran? (dalam definisi saya)

Pacaran adalah sebuah status fiktif atau semu yang tidak berlandaskan hukum apa pun (hukum agama, ataupun hukum negara). Status ini dengan sengaja atau tidak sengaja dimunculkan untuk me”legal“kan hubungan atau ikatan antara pria dan wanita diluar nikah atau ikatan persaudaraan. Tentu saja status pacaran ini sendiri pun tidak terdapat dalam agama (dalam ini islam agama saya), sehingga bisa dikatakan bahwa status itu akan mendekatkan kita kepada zina yang dimana didalam al-quran sendiri pun sudah diperingatkan bahwa kita dilarang mendekati zina. Apakah pacaran itu sama dengan taaruf? Tentu saja saya akan dengan senang hati menjawab : TIDAK! kalau tidak percaya silahkan teman-teman sekalian mencari artikel-artikel yang berhubungan dengan taaruf atau bertanya kepada orang yang sudah ahli dalam agama.


Bagaimana agar tidak salah pasangan?

Jawabannya sangatlah sederhana, yaitu terimalah pasangan anda apa adanya, bukan ada apanya. Penerimaan terhadap kekurangan pasangan, dan rasa syukur akan kelebihannya dapat memunculkan sesosok pasangan yang ideal bagi diri anda.

Advertisements
Posted in what i think

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2011
M T W T F S S
« Dec   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Blog Stats
  • 25,518 hits

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories
%d bloggers like this: