pernikahan dan materi


setelah beberapa kali mendapatkan sedikit diskusi dengan beberapa orang tentang pernikahan, sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa jaminan nikah adalah materi (uang/harta). Terutama bisa saya simpulkan kalau mereka tidak meng”amin”i menikah ketika sedang berkuliah dengan alasan jaminan materi tersebut.

ada pula yang berkata bahwa uang/harta bukanlah yang utama, tapi juga penting. Lalu apakah yang terpenting untuk menikah?

kembali ke masa lalu, dulu saya pernah berbincang-bincang tentang pernikahan dengan mama saya. Beliau bercerita tentang perkawinan mereka jaman dulu. Mereka menikah hanya dihadiri beberapa orang terdekat, tanpa pesta, maharnya pun hanya sajadah dan al-quran, makanannya hanya nasi bungkus dan kalau dihitung-hitung biaya pernikahan mereka kurang lebih hanya 100rb pada jaman sekarang.

Hal ini menarik perhatian saya, karena sesuai dengan sunah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan.

Saya bertanya tentang bagaimana caranya menghidupi keluarga dengan kondisi yang masih kuliah (tingkat akhir), lalu beliau berkata, “masalah rezeki itu ditangan allah, tidak perlu kita pusingkan materi ketika kita sudah ingin menikah.” beliau juga menjelaskan, kalau memang masih kuliah, biaya kuliah dan hidup ditanggung oleh keluarga masing-masing sampai pada saatnya bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Sangat menarik hal ini bagi saya pribadi, karena menikah bagi saya dan keyakinan saya bukan dengan embel-embel materi sama sekali dan materi itu dicari bersama-sama ketika telah menikah. Menikah bukan berarti hanya berkeluarga dan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menjalani hidup bersama, tapi juga meneruskan keturunan agar dapat menurunkan nilai-nilai kebaikan dan keagungan islam kepada penerusnya.

Sesuatu yang membuat pernikahan bahagia adalah karena orientasi pernikahan yang kuat . Semakin kuat orientasinya, semakin besar peluang pernikahan itu bertahan lama dan bahagia . Sebaliknya, pernikahan yang dilandasi oleh harapan harapan akan menimbulkan masalah dan mendatangkan kekecewaan, terutama jika kita mengharapkan jaminan nikah berupa materi.

Namun kalau pernikahannya berangkat dari orientasi ketaatan kepada Allah , semua itu akan menjad indah. walaupun Ketaatan kepada Allah tidak harus mengabaikan hak hak yang bersifat fisik/materi. Tapi itu bukanlah yang utama untuk nikah.

Jika memang orang jaman sekarang terlalu berorientasi terhadap materi, bahkan untuk menikah sekalipun mengharapkan jaminan berupa materi. Maka saya ingin menikah dalam kondisi materi yang sangat sedikit atau bahkan NOL.

Kondisi seperti apakah itu? ya tentu saja, sebelum saya lulus dan bekerja 🙂 Jika dalam kondisi itu saya belum menikah, maka aku bernazar tidak akan menikah seumur hidup saya.

Advertisements
Posted in 1
2 comments on “pernikahan dan materi
  1. alditama says:

    yes ada makan2!! hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
Blog Stats
  • 28,009 hits
Categories
%d bloggers like this: