day #12

“Gerry baik2 ya,aku doain yg trbaik psti kok buat gry.take care”

Aku sudah pernah mendapatkan yang terbaik untuk hidup aku kok, yaitu kamu. Tetapi aku tidak pernah melakukan yang terbaik untuk yang terbaik. Aku tau itu semua kesalahan ku, yang bisa aku lakukan sekarang adalah menunggu kesempatan agar bisa melakukan yang terbaik dan memperbaiki kesalahan ku dimasa lalu.


day #11

Akhirnya tiba saat-saat yang tidak pernah kita inginkan

Saat yang pasti akan datang, cepat atau lambat

Saat yang telah kita ketahui dari lama

Apakah engkau akan mengingat semuanya?

Hari-hari yang kita lalui bersama ketika saat itu tiba

Kejujuran ku pun aku ungkap dalam pesan singkat sinyal-sinyal elektronik. Aku tidak pernah tau apakah kejujuran itu kau harapkan atau tidak. Namun aku hanya berusaha untuk jujur, walaupun terlalu pengecut untuk mengakuinya.


day #10

If the writing is honest it cannot be separated from the man who wrote it.— Tennessee Williams

Aku bukan seorang pria yang jujur, namun aku tidak bisa berbohong bahwa setiap huruf di tulisan ini aku merindukan-mu  N.D.


day #9

Jam masih berdenting

seperti sedang menghitung detik

Tunggu aku yang tak berhenti

Tiap detaknya menceritakan kejadian demi kejadian

Bukankah Tuhan menghadirkan-mu di waktu yang tepat?

Duduk dan menunggu, bukanlah dalam arti sebenarnya. Bukan badan ku yang duduk dan menunggu, tetapi hati dan jiwa ku yang masih disini menunggu diri-mu atau mungkin diri-mu yang lainnya. Aku percaya bahwa Tuhan menghadirkan diri-mu kedalam hari-hari ku di waktu yang tepat, dan aku tinggal menunggu kapan waktu itu. :)


UU No.20/2003 (Bagian 1)

Mari kita membahas tentang definisi pendidikan yang dibuat oleh pemerintah. Di dalam UU No.20/2003 mengenai sistem Pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

Kita mulai dengan membahas definisi kata “Usaha” ,Sadar” dan “terencana” di dalam KBBI, yaitu:

  • usa·han1 kegiatan dng mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud; pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya) untuk mencapai sesuatu: bermacam-macam — telah ditempuhnya untuk mencukupi kebutuhan hidup; — meningkatkan mutu pendidikan;2 kegiatan di bidang perdagangan (dng maksud mencari untung); perdagangan; perusahaan: – perkayuan mengalami kemajuan; — nya di bidang tenun ikat berkembang pesat; 
  • sa·dar1a insaf; merasa; tahu dan mengerti: kita harus — bahwa hidup ini penuh perjuangan;2v ingat kembali (dr pingsan dsb); siuman: orang yg pingsan tadi kini sudah –;3v bangun (dr tidur):tengah malam dia — dr tidurnya krn bermimpi buruk;
  • ren·ca·na n 1 kl cerita; 2 rancangan; buram (rangka sesuatu yg akan dikerjakan): – kerja; 3 konsep; naskah (surat dsb); buram (surat): mana — surat ini; 4 laporan pemberitaan; catatan mengenai pembicaraan dl rapat dsb: penulis dipersilakan membacakan — rapat anggota yg lalu; 5 acara (pembicaraan); program: usulnya tercantum dl — yg akan dibicarakan dl rapat besar6 artikel; makalah; kertas kerja: ia menulis — untuk seminar bahasa7 cak maksud; niat; 

Dengan nama lain kalau boleh saya artikan adalah kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud, dan kita tentu harus merasa tahu dan mengerti kenapa harus melakukan kegiatan tersebut. Tentu saja usaha yang dikeluarkan atau pun kesadaran yang dibentuk harus memiliki konsep, rancangan, laporan pemberitaan, program, dll.

Pertanyaan yang terbersit di benak saya adalah

- Usaha itu membutuhkan pengorbanan, lalu apakah pengorbanan utama di dalam pendidikan yang terdapat di dalam frame pemikiran masyarakat saat ini? Usaha sang anak ataukah berapa banyak duit yang dikeluarkan?

- Apakah seorang anak kecil memiliki kesadaran untuk usaha dia didalam menempuh pendidikan? Anak TK? Anak SD? Tentu saja kesadaran mereka adalah bermain dengan anak sebaya dengan dirinya. Bukan di kurung didalam kotak lalu di paksa untuk duduk dan mendengarkan ceramah sang guru.

-Siapakah yang membuat rencana dalam sebuah pendidikan? Apakah peserta didik diberikan kesempatan dan mampu membuat rencana dalam pendidikan mereka sendiri? Terutama peserta didik yang masih dalam usia anak-anak.

…. untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran…“, usaha terencana yang di atas tentu untuk menwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Suasana seperti apa? Dan proses pembelajaran seperti apa?

 

Sekian dulu… bersambung :p


day #8

Angka delapan memang menandakan keberadaan diriku, namun juga telah menjadikan ku tiada. Gerimis di Bulan November.

Ratusan ucapan di fb, twitter dan sms, namun hanya satu ucapan yang ku nanti tidak kunjung tiba. Mungkin diri mu sudah lupa, atau mungkin diri mu menghindari itu. Selama ini aku tidak pernah berharap mendapatkan puluhan, ratusan atau pun satupun ucapan di angka yang menandakan keberadaan diriku, cukup.. cukup dengan diri mu disampingku itu sudah sangat menandakan keberadaan diriku.

Meniup sebatang lilin dari seseorang memang suatu hal yang baru bagi ku, yup.. kau tau itu, bahwa aku memang seorang pria yang sangat kaku sehingga susah sekali mengekspresikan perasaan ku. Perasaan yang seharusnya aku dapat berbahagia di saat meniup lilin itu. Namun perasaan sedih menerpa saat aku meniup lilin itu, karena malam itu adalah menandakan kali ini tiada dirimu disamping ku. ya.. aku hanyalah seorang pria yang kaku, selalu berusaha menyembunyikan apa yang aku rasa.. Bahkan di malam itu.

Tahun-tahun lalu, semua telat mengucapkan selamat atas keberadaan ku, dan aku tidak peduli semua itu. Karena aku tau bahwa diriku selalu ada dihati mu. Namun tahun ini sangat berbeda sekali, bahkan adik ku pun mengucapkan selamat lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Dan diri mu sudah menjadi kenangan. Yang aku sendiri tidak tahu, apakah diri mu kenangan terindah ataupun terburuk di hidupku.

Rokok yang masih ku hisap, kopi hangat yang masih bisa aku minum, namun semua itu hanya berteman senyum manis dari foto diri mu.

Bagi ku, memang kehilangan semua orang itu memuakkan. Terbuang dari kehidupan sosial lebih menyiksa daripada hidup miskin. Namun aku yang lebih menyedihkan adalah ketiadaan diri ku dan diri mu. Kita.
No one special but november is mine, and yours


day #7

“Allahu akbar.. Allahu akbar”

Bunyi itu terus dikumandangkan orang malam ini. Entah kenapa ada perasaan sedih yang mendalam. “Di dalam diam.. Sunyi.. dan kebisuan..” Mungkin karena mengingat sebentar lagi seharusnya menjadi hari yang “istimewa” bagi ku.

Dalam diam aku berusaha membuka lembar lama di hidup ini, teringat dahulu kala seseorang menjadi hadiah istimewa di hari istimewa tersebut. Namun telah lama orang itu menghilang.

Kini, aku berusaha melihat lembar-lembar yang tidak terlalu lama. Teringat seseorang yang dulu pernah aku culik di kegelapan malam dan memandang indahnya bintang-bintang. “Ah.. dia mungkin juga sudah menghilang..” Mungkin memang itu semua salah ku. lagi dan lagi. Kini aku hanya bisa memanggil namanya dalam sebuah sapaan, tidak ada maksud apa-apa hanya ingin menyapa mu seperti dulu. Karena saya tau masa lalu mungkin berbeda dengan masa kini. Walau rasa rindu itu terasa sama.


Satukanlah

“Tuk hari esok yang lebih baik….”

Sebuah penggalan dari lirik yang berjudul satukanlah, mungkin banyak dari orang-orang diluar sana belum mendengar lagu ini. Namun lagu ini selalu menghiasi dan penyemangat hari-hari ku, bukan hanya sebuah lagu-lagu pembuat galau seperti lagu-lagu kebanyakan di jaman sekarang. Lagu ini pertama kali ku dengar disaat aku duduk di bangku SMA, ya memang sekilas aku mendengarnya tetapi maknanya merasuk kedalam jiwa. Setelah lulus SMA dan memasuki kampus biru saya disambut dengan lagu-lagu kampus yang notabene lagu-lagu tersebut berbeda dengan lagu satukanlah ini.

“Satukanlah diri mu semua, seluruh rakyat senasib serasa.. Susah senang di rasa sama..”

Lagu ini memberikan ku makna perjuangan, ya makna perjuangan sebagai rakyat bukan sebagai bagian elite dari rakyat itu. Bersama-sama dan merangkul rakyat untuk berjuang, bukan untuk sok-sok memperjuangkan rakyat tetapi tidak pernah menyentuh rakyat itu sama sekali. Dari lagu ini lah muncul mimpi-mimpi kecil ditengah hari-hari ku, bukan untuk berbagi iba, bukan untuk sok-sokan menjadi superior yang menolong inferior, tetapi mimpi-mimpi untuk mengajak berubah bersama-sama menuju hari esok yang lebih baik.

“Bangun, bangunlah segera.. Satukanlah berai jemari mu, kepalkanlah dan jadikan tinju..

Bara luka jadikan palu, tuk pukul, lawan dan tak perlu kau ragu”

Mimpi ku yang paling sederhana adalah dengan mengajak anak-anak itu berubah bersama-sama. Menjadi lebih baik dari hari esok, walaupun parameter kata-kata “baik” itu sendiri pun sangat relatif bagi kebanyakan orang. Mimpi sederhana dengan berbagai tantangan kerumitan. Dan aku yakin dari mimpi sederhana ini, pada suatu saat nanti anak-anak itu mampu mengangkat pedang dan membela hak-hak mereka sendiri dengan penuh kesadaran.


Waktu Yang Tepat

Jam masih berdenting

seperti sedang menghitung

Tunggu aku yang tak berhenti

Tiap detaknya menceritakan kejadian demi kejadian

Bukankah tuhan menghadirkan waktu yang tepat?

Pernahkah kita menyadarinya, bahwa apa yang terjadi itu selalu di waktu yang tepat. Namun sering kali kita berbicara “kenapa hal ini terjadi di waktu yang tidak tepat?”

Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu yang tidak pada tempatnya, hidup, nyawa, nafas, aliran darah, bahkan hembusan angin. Semua diatur sedemikian rupa, begitu juga sesuatu yang kita sebut sebagai masalah. Orang pun belajar segala sesuatu disaat yang tepat, disaat dia sudah merasa mantap dan butuh mempelajari itu.

Begitu juga dengan hari ini, segalanya begitu tepat walaupun aku sering menganggap itu tidak tepat atau bahkan orang sekitar ku menganggap itu tidak tepat dengan segala penilaian mereka.

Ada yang berbicara hidup itu untuk berusaha, ada yang berbicara hidup itu untuk berhasil. Namun bagiku hidup ini untuk berhasil berusaha disaat yang tepat. :)


									

Terima Kasih Cinta Dalam Sebuah Makna

Beberapa saat lalu aku melihat salah satu tayangan realiti show, dimana ada seorang mahasiswa yang hidup bersama tukang anyaman bambu selama beberapa hari. Memang aku salah satu orang yang tidak menyukai tontonan semacam itu dan entah kenapa saat itu aku masih terpaku untuk menonton acara itu.

Memaknai apa yang aku dapat hari itu adalah ternyata aku sangat banyak mengambil sisi negatif dari apa yang aku tonton daripada dapat memaknai sisi positifnya. Aku mengambil betapa hinanya ketika perasaan iba terhadap sosial itu terlalu dibuat-buat, bukan memaknai makna yang terdalam dari apa yang aku lihat.

Makna positif yang saat ini benar-benar aku sadari adalah

  • sering kali ingin dicintai namun justru sering kita tidak mau mencintai.
  • Syukur. Ya, kadang kita lupa bersyukur bahwa banyak orang yang mencintai kita disekitar kita.
  • More, more and more. Kita sering kali meminta lebih kepada orang disekitar kita, tapi kita tidak mau memberi lebih kepada orang yang mencintai kita.
Terkadang ada kalanya ketika kita mencintai seseorang, hal yang ingin kita lakukan adalah membantu dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan berhenti menjadi penuntut. Kita adalah pelayan dia, melayani dia dengan sepenuh hati. Seperti orang tua kita. Selalu berusaha memberikan apa pun yang kita butuhkan ataupun inginkan. Walaupun itu nyawanya sendiri.

Terima kasih untuk status seorang kawan Atri Purwasasmita, karena dia menggubah diri ku untuk dapat menyelami makna itu. Padahal ada makna yang lebih penting daripada sisi negatif itu, dan hal itu baru aku sadari saat ini.Namun apalah artinya saat itu, toh bukankah kesadaran untuk memaknai akan datang pada waktu dan tempat yang tepat. :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 354 other followers